Pages

Sabtu, 29 Oktober 2011

TURUTILAH DAN LAKUKANLAH SEGALA SESUATU YANG MEREKA AJARKAN



Renungan

Hal-hal baik itu lebih enak dan mudah dibicarakan daripada dilaksanakan. Karenanya, tidak mengherankan bila kita dengan mudah menemukan contoh-contoh orang yang berbeda antara yang dikatakan dengan perbuatannya. Orang bisa dengan indah bicara tentang kesetiaan, tapi belum tentu ia adalah orang yang setia. Orang bisa dengan tulus bicara kejujuran, namun tidak otomatis bahwa dia adalah orang jujur. Orang bisa dengan lincah menasehati bagaimana memaafkan, sementara dia sendiri setengah mati kalau harus memaafkan orang ian. Orang bisa mendapatkan nilai “cum laude’ saat mempresentasikan pentingnya cinta kasih, kelemahlembutan, sementara setiap hari bogem mentahnya bersarang tiga kali sehari di pipi istri atau anak. Dalam bahasa yang agak vulgar, inilah sebenarnya yang disebut kemunafikan. Meski vulgar, kata itulah yang sering digunakan Yesus untuk mengkritik orang-orang Farisi dan Ahli-ahli Taurat, atau siapapun yang dalam dirinya dihinggapi kemunafikan.

Kemunafikan bisa hinggap pada siapa saja: para pemimpin, para romo, para pemuka umat, umat atau siapapun yang dalam hidup, tidak menunjukkan kesesuaian antara apa yang dikatakan dan diyakini dengan perilaku hidupnya. Tak ada kata sepakat antara bibir dan hati. Tak pernah punya rindu bahwa keyakinan yang benar menyatu dalam kata dan tingkah laku. Bacaan-bacaan Misa Minggu Biasa XXXI A, menguraikan dengan sangat gamblang; bukan untuk “menelanjangi” sesama dengan kritik-kritik tajam soal kemunafikan. Tapi pertama-tama untuk saling belajar: bagaimana semakin mencintai Yesus Kristus dalam situasi hidup yang kemunafikan sungguh takterelakkan.Bacaan pertama yang diambil dari kitab Maleakhi (Mal 1:14b-2:2b.8-10) mengkisahkan nubuat Maleakhi bahwa Tuhan adalah raja. Raja besar yang memiliki harapan besar akan imam-imam agar mendengarkan, memberi perhatian untuk menghormati namaNya. Faktanya; para imam tidak mengikuti jalan yang ditunjukkan dan memandang bulu dalam pengajaran. Ajarannya justru membuat banyak orang tergelincir. Sebagai akibat dari tindakan itu Tuhan memberikan hukuman berupa kutuk, membuat hina dan rendah bagi seluruh umat. Nubuat Maleakhi yang demikian, mengisyaratkan bahwa Tuhan selalu punya harapan atas setiap orang agar perilaku dan hidupnya selaras dengan apa yang dikehendakiNya. Namun harapan tinggal harapan; penyimpangan kerap terjadi. Penyimpangan inilah yang disebut kemunafikan. Buah dari kemunafikan adalah “hukuman” berupa diri yang hina dan rendah dihadapan orang lain. Ibarat garam, hilang rasa asin. Ibarat senjata, kehilangan ketajamannya.

Dalam bacaan Injil (Mat. 23:1-12), Yesus mengatakan kepada orang banyak dan juga murid-muridNya, agar menuruti dan melaksanakan apa yang diajarkan oleh Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, tapi jangan menuruti perbuatan-perbuatan mereka. Mengapa? Karena mereka mengajarkan, tetapi tidak melaksanakan. Itulah kemunafikan. Kemunafikan yang demikian dengan mudah bisa muncul dalam sikap-sikap; membebani hidup orang lain, melakukan sesuatu untuk memperoleh pujian. Suka mendapatkan penghormatan dimanapun dan kapanpun. Kendati demikian, Yesus tetap menghargai ahli-ahli Taurat dan orang Farisi dengan mengatakan bahwa ajaran mereka dituruti dan dilaksanakan. Bukan berarti Yesus setuju dengan kemunafikan mereka, tapi pertama-tama mereka telah menduduki kursi Musa. Artinya, mereka mengajarkan sebuah kebenaran dengan otoritas yang tidak diragukan lagi. Ajaran sebagai sebuah ajaran kebenaran, keluar dari bibir siapapun tetaplah sebuah ajaran kebenaran.

Tidaklah mudah, untuk menerima sesuatu yang baik tanpa harus memandang siapa yang menyampaikan. Tanpa mengkaitkan kecocokan antara yang disampaikan dengan yang diperbuat. Tapi sesulit apapun, bisa diatasi bila kita ingin mencintai Yesus lebih dekat. Mencintai Yesus semakin dekat berarti menyatakan dalam hidup apa yang disabdakan: “Siapapun yang terbesar diantara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan.

Kita sadar betul, kesempurnaan dan kesucian bukanlah sesuatu yang melekat dalam diri kita. Tapi kita berjuang mengarah kepada kesucian dan kesempurnaan itu. Dengan demikian, menyampaikan sesuatu yang benar tidak perlu menunggu diri menjadi sempurna. Bila untuk menyampaikan sebuah kebenaran menuntut orang menjadi sempurna terlebih dahulu, siapa yang akan menyampaikan kebenaran? Karna tidak ada yang sempurna. Tapi, ini tidak boleh menjadi alasan untuk “menikmati lezatnya” kemunafikan. Ketidak sempurnaan dijadikan pembenaran atas sikap munafik.

Jika ingin mencintai Yesus, kita harus berjuang keras melepaskan diri dari belenggu kemunafikan. Lepas dari situasi itu menyebabkan kita seperti Paulus sebagaimana dikisahkan dalam bacaan kedua (1Tes. 2:7b-9.13). Paulus menjadi orang yang bukan hanya rela membagi Injil Allah melainkan juga berbagi sesuatu yang mendasar; yakni berbagi hidup. Paulus mampu melakukan itu semua karena kasihnya yang besar kepada Yesus dan juga jemaat di Tesalonika. Itulah hidup yang terlepas dari kemunafikan.

Mari kita saling belajar untuk itu. Tuhan memberkati

0 komentar:

Posting Komentar